Monday, 22 April 2013

SEJARAH IAID

Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.

Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.

Monday, 15 April 2013

MAKALAH LINGKUNGAN PENDIDIKAN


                                 KATA PENGANTAR                  

Puji dan syukur seraya kita panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena berkat rahmat, hidayah, dan karunia-NYA penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Lingkungan Pendidikan”.
Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Program Study PGMI Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Tahun 2012.
Kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri penulis merupakan hambatan yang serius dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dari semua pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Selanjutnya dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan berbagai saran, masukan dan kritikan yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Besar Harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umunya bagi rekan-rekan semua. Semoga Alloh SWT membalas semua amal baik dan melimpahkan hidayah-NYA pada kita semua. Amin.

                                   
Ciamis,  15  Januari  2012


Penulis






DAFTAR ISI

                                                                                                  Hal
KATA PENGANTAR……………………………………………… i
DAFTAR ISI……………………………………………………….. ii
BAB I  PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang…………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah………………………………………... 1
C. Tujuan penulisan………………………………………….. 1
D. Metode Penulisan ……………………………………...… 2
E. Sistematika Penulisan …………………………………...... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.  Pengertian Lingkungan Pendidikan ................................................... 3
B.  Fungsi Lingkungan Pendidikan ................................................ ........ 3
C.  Ragam Bentuk Lingkungan Pendidikan ............................................. 4
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ..................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 13














                                               BAB I                                              
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan  merupakan  usaha  yang  sengaja  dan terencana untuk membentuk perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanpaat bagi kepentingan hidup nya, sebagai individu dan sebagai warga Negara /masyarakat. Pendidikan normal. Potensi itu merupakan benih(bawaan) sejak di lahirkan, pendidikan bertugas untuk  menumbuh kembangkan potensi manusia agar menjadi manusia dewasa, beradab dan gembangkan potensi pendidikan, pendidikan bergerak mulai dari menekan control  yang sanat ketat terhadap proses belajar sampai dengan memberikan keleluasaan  pada peserta didik untuk mengembangkan potensi belajarnya.
Dilihat dari sudut yang dialami seorang anak, maka pendidikan mempunyai peranan yang besar dalam mencapai  keberhasilan dalam perkembangan anak. Namun demikian dalam sejarah  pendidikan dapat dijumpai berbagi pandangan atau teori mengenai bagaimana perkembangan manusia berlangsung.berikut akan diuraikan mengenai lingkungan pendidikan yang ada disekitar  manusia. Baik berupa benda mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi.
B. Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Jelaskan  pengertian lingkungan pendidikan?
2.      Jelaskan fungsi pendidikan?
3.      Bagaimana ragam bentuk terhadap lingkungan pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
       Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalah adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian lingkungan pendidikan
2.      Untuk mengetahui fungsi dari lingkungan pendidikan
3.      Untuk mengetahui ragam bentuk lingkungan pendidikan
D. Metode Penulisan
 Adapun metode penulisan makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu mempelajari buku-buku yang kami jadikan referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian informasi dengan melalui jalur internet.
E. Sistematika Penulisan
            Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
B.       Rumusan Masalah
C.       Tujuan Penulisan
D.       Metode Penulisan
E.        Sistematika Penulisan
BAB II  PEMBAHASAN
1.      Pengertian lingkungan pendidikan
2.      Fungsi lingkungan pendidikan
3.      Ragam bentuk lingkungan pendidikan
BAB III  PENUTUP
A.       Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA












BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, perkembangan dan proses kehidupan. (Purwanto, 1994)
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yan ada di sekitar manusia, baik berupa benda mati,  makhluk hidup, ataupun peristiwa- peristiwa yang terjadi termasuk kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu.
Menurut Hasbullah (2003) lingkungan pendidikan mencakup:
1.    Tempat (lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
2.    Kebudayaan (linkungan budaya) dengan warisan budaya tertentu seperti: bahasa, seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup dan pandangan keagamaan; dan
3.    Kelompok hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain, desa perkumpulan dan lainnya.
B.     Fungsi Lingkungan Pendidikan
Pertama lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik, sosial dan budaya, terutama dalam berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara optiamal.
Kedua lingkungan pendidikan adalah mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi serta mempersiapkan peranan-peranan tertentu dalam masyarakat.




C.    Ragam Bentuk  Lingkungan Pendidikan
a.    Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah keluarga kecil karena hubungan sedarah. Bisa berbentuk keluarga inti (nucleus family, ayah ibu dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (di samping inti, ada orang lain seperti kakek, nenek, ipar dan lain sebagainy. (Tirtahardja, 2004).
Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranana penting dalam membentuk generasi muda. Keluarga disebut pula sebagai lembaga pendidikan informal. Pendidikan informal, adalah kegiatan pendidikan yang tidak diorganisasikan secara struktural dan tidak  mengenal sama sekali penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan. (Azra, 1998).
Keluarga secara etimologi menurut Ki Hajar Dewantara, seperti di jelaskan oleh Abu Ahmadi adalah sebagai berikut: Bagi bangsa kita perkataan “keluarga” tadi kita kenal sebagai rangkaian perkataan-perkataan “kawula” dan “warga”. Sebagai kita ketahui, maka “kawula” itu tidak lain artinya dari pada “abdi” yakni “hamba” sedangkan “warga” berarti “anggota”. Sebagai “abdi” dalam “keluarga” wajiblah seseorang disitu menyerahkan segala kepentingan-kepentingan kepada keluarganya. (Ahmad, 1991).
Keluarga dalam pandangan antrpologi adalah kesatuan-kesatuan kecil yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama yang sangat erat.
Secara sosiologis keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri darki beberapa individu yang terikat suatu keturunan, yakni kesatuan antara ayah, ibu dan anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat. (Ahmadi, 1991).
Dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan adalah sebagai  berikut:
·      Dorongan/motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak.
·      Dorongan/motivasi kewajiban moral, sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya.
·      Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga, yang pada gilirannya juga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa dan negaranya, bahkan kemanusiaan. (Tim Dosen Ikip Malang, 1998).
Tujuan pendidikan dalam keluarga
·      Memelihara dan membesarkan anak
·      Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah
·      Memberi pengajaran dalam arti yang luas, sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan.
·      Membahagiakan anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim. (Daradjat, 1992).
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak dari orang tua meliputi tujuh hal berikut:
·      Dasar pendidikan budi pekerti dengan cara memberikan norma pandangan hidup tertentu walaupun masih dalam pola yang masih sederhana.
·      Dasar pendidikan sosial dengan cara melatih anak dengan tata cara bergaul dan berkomunikasi yang baik terhadap lingkungan sosial sekitar.
·      Dasar pendidikan intelek dengan cara mengajar anak tentang kaidah-kaidah bertutur bahasa yang baik.
·      Dasar pembentukan kebiasaan pembinaan kepribadian yang baik dan wajar dengan membiasakan anak hidup teratur bersih, disiplin, dan rajin.
·      Dasar pendidikan nasinalisme dan patriotisme dan berprikemanusiaan untuk  mencintai bangsa dan tanah air.
·      Dasar pendidikan agama, melatih dan membiasakan anak beribadah kepada Tuhan dengan meningkatkan aspek keimanan dan ketakwaan.

Lingkungan keluarga berpengaruh kepada anak dari sisi:
a.    Perlakuan keluarga terhadap anak
b.    Kedudukan anak dalam keluarga
c.    Keadaan ekonomi keluarga
d.   Keadaaan pendidikan keluarga, dan
e.    Pekerjaan orang tua.
b.   Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, alat-alatnya disusun secara eksplisit, sistematis dan distandarisasikan” (Azra, 1998).
Penjabaran fungsi sekolah sebagi pusat pendidikan formal, terlihat pada tujuan institusional, yaitu tujuan kelembagaan pada masing-masing jenis dan tingkatan sekolah. Lembaga pendidikan formal pra sekolah tebagi atas Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas yang terdiri dari sekolah menengah umum kejuruan, serta perguruan tinggi dengan aneka ragam bidangnya. Tujuan institusional untuk masing-masing tingkat atau jenis pendidikan, pencapaiannya ditopang oleh tujuan-tujuan kurikuler dan instruksional.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menerima fungsi pendidikan berdasarkan asas-asas tanggung jawab berikut ini:
·      Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku (undang-undang pendidikan).
·      Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan, dan tingkat pendidikan yang dipercayakan kepadanya oleh masyarakat.
·      Tanggung jawab fungsional ialah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana pendidikan (para guru dan pendidik) yang meneriama ketetapan ini berdasarkan ketentuan-ketentuan jabatannya.
Sekolah memiliki ciri jenjang dapat dijelaskan  sebgai berikut:

·      Jenjang Lembaga
Sekolah dirancang dengan berbagi tingkatan, dari taman kanak-kanak (TK). Sampai perguruan tinggi (PT). Sebagian dikelola oleh Depertemen Pendidikan Nasional dan sebagian  lainnya dikelola oleh Depertemen Agama.
·      Jenjang Kelas
Jenjang kelas ini sangat bervariasi misalnya pada tingkat SD/MI terdiri dari enam kelas, SMP/MTS ada tiga kelas, dan SMA/MAN termasuk sekolah yang sederajat tiga kelas. Sedangkan pada tingkat PT tidak ditentukan oleh jenjang kelas, tetapi sejauhmana mahasiswa dan mahasiswi dapat menyelesaikan pendidikannya sesuai denagan kecepatannya. Setiap mahasiswa dan mahasiswi diberi matakuliah kesempatan untuk memilih matakuliah dan dosen secaraa mandiri. Masing-masing mata kuliah diberi bobot sendiri-sendiri yang disebut dengan satuan kredit (sks).
Evaluasi untuk mengukur kemampuan murid untuk menyelesaikan pendidikannya pada suatu jenjang atau jenis pendidikan dilakukan melalui tiga cara berikut:
1.    Formatif, dilakukan setiap selesai satu sesi pembelajaran.
2.    Sumatif, yang dilakukan setiap semester, atau setiap tahun.
3.    UAN (Ujian Akhir Nasional), adalah evaluasi yang diselenggarakan pada sekolah dan juga yang diselenggarakan oleh pemerintah (sekolah negeri) atau sekolah swaata yang berada dalam naungan pemerintah.
Meskipun demikian, tidak semua pertumbuhan dan perkembangan kepribadian murid itu berkembang semata karena kurikulum, tetapi boleh jadi perkembangan itu melalui interaksi antara satu murid dengan lainnya, atau dengan gurunya bahkan juga dengan lingkungannya.



c.    Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertian (pengetahuan) sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan (Marimba, 1980).
Lembaga pendidikan kemasyarakatan islam dapat mengambil bentuk organisasi kepanduan, perkumpulan pemuda, olahraga, kesenian, remaja mesjid, majelis taklim, koperasi, pusat keterampilan dan latihan, partain politik, perkumpulan agama dan lain-lain.
Sosial/masyarakat, adalah pendidikan yang merupakan tersier, tapi sifatnya permanen dengan  pendidikannya masyarakat itu sendiri secara sosial, kebudayaan adat istiadat dan kondisi masyarakat setempat sebagai lingkungan material.
Pendidikan dalam pergaulan masyarakat terutam banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan seperti:
a.    Masjid surau atau langgar, musholla
b.    Madrasah, podok pesantren
c.    Pengajian atau majelis taklim
d.   Kursus-kursus, dan
e.    Bada-badan pembinaan roahani (biro pernikahan, biro konsultasi keagamaan dan lain-lainnya)








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.    Lingkungan pendidikan dapat membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya.
2.    Lingkungan pendidikan mengajarkan tingkah laku umum untuk menyeleksi dan mempersiapkan peranan-peranan tertentu dalam masyarakat. Dan
3.    Dengan lingkungan pendidikan juga adalah tempat seseorang memeperoleh pendidikan secara lansung maupun tidak lansung.





















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Uhbiyati, Nur. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmadi, Abu 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Hasbullah. 2003. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purwanto, Ngalim. 1994. Ilum Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Langgulung, Hasan. 1995. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Husna Zikra.
Tirtahadja, Umar. 2004. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Azra, Azyumardi, 1998. Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
D Marimba, Ahmad. 1980. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al- Ma’arif.
Daradjat, Zakiyah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.