KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur seraya kita panjatkan ke hadirat Alloh SWT,
karena berkat rahmat, hidayah, dan karunia-NYA penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “Lingkungan Pendidikan”.
Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Program Study PGMI Fakultas Tarbiyah Institut
Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Tahun 2012.
Kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri penulis
merupakan hambatan yang serius dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan dari semua pihak, akhirnya makalah ini dapat
diselesaikan.
Selanjutnya dengan segala keterbatasan, penulis menyadari
bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan berbagai saran, masukan dan
kritikan yang bersifat membangun dari semua pihak demi perbaikan dan
penyempurnaan makalah ini.
Besar Harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umunya bagi rekan-rekan semua. Semoga Alloh SWT
membalas semua amal baik dan melimpahkan hidayah-NYA pada kita semua. Amin.
Ciamis, 15
Januari
2012
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
KATA
PENGANTAR……………………………………………… i
DAFTAR
ISI……………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang…………………………………………... 1
B.
Rumusan Masalah………………………………………... 1
C.
Tujuan penulisan………………………………………….. 1
D.
Metode Penulisan ……………………………………...… 2
E.
Sistematika Penulisan …………………………………...... 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Lingkungan Pendidikan ................................................... 3
B. Fungsi
Lingkungan Pendidikan ................................................ ........ 3
C. Ragam
Bentuk Lingkungan Pendidikan ............................................. 4
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
..................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
........................................................................... 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
merupakan usaha yang
sengaja dan terencana untuk
membentuk perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanpaat bagi
kepentingan hidup nya, sebagai individu dan sebagai warga Negara /masyarakat.
Pendidikan normal. Potensi itu merupakan benih(bawaan) sejak di lahirkan,
pendidikan bertugas untuk menumbuh
kembangkan potensi manusia agar menjadi manusia dewasa, beradab dan gembangkan
potensi pendidikan, pendidikan bergerak mulai dari menekan control yang sanat ketat terhadap proses belajar
sampai dengan memberikan keleluasaan
pada peserta didik untuk mengembangkan potensi belajarnya.
Dilihat dari sudut yang dialami seorang anak, maka
pendidikan mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak. Namun
demikian dalam sejarah pendidikan dapat
dijumpai berbagi pandangan atau teori mengenai bagaimana perkembangan manusia
berlangsung.berikut akan diuraikan mengenai lingkungan pendidikan yang ada
disekitar manusia. Baik berupa benda
mati, makhluk hidup, ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi.
B. Rumusan Masalah
Sesuai latar belakang diatas, maka rumusan masalah
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Jelaskan pengertian lingkungan
pendidikan?
2. Jelaskan
fungsi pendidikan?
3. Bagaimana
ragam bentuk terhadap lingkungan pendidikan?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalah
adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui pengertian lingkungan pendidikan
2. Untuk
mengetahui fungsi dari lingkungan pendidikan
3. Untuk
mengetahui ragam bentuk lingkungan pendidikan
D. Metode
Penulisan
Adapun metode
penulisan makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu
mempelajari buku-buku yang kami jadikan referensi dalam pengumpulan informasi
dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian
informasi dengan melalui jalur internet.
E. Sistematika
Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan Penulisan
D.
Metode Penulisan
E.
Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
1.
Pengertian lingkungan pendidikan
2.
Fungsi lingkungan pendidikan
3.
Ragam bentuk lingkungan pendidikan
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia yang dengan
cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku, pertumbuhan, perkembangan dan
proses kehidupan. (Purwanto, 1994)
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yan ada di
sekitar manusia, baik berupa benda mati,
makhluk hidup, ataupun peristiwa- peristiwa yang terjadi termasuk
kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada
individu.
Menurut Hasbullah (2003) lingkungan pendidikan mencakup:
1. Tempat
(lingkungan fisik), keadaan iklim, keadaan tanah, keadaan alam.
2. Kebudayaan
(linkungan budaya) dengan warisan budaya tertentu seperti: bahasa, seni,
ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup dan pandangan keagamaan; dan
3. Kelompok
hidup bersama (lingkungan sosial atau masyarakat) keluarga, kelompok bermain,
desa perkumpulan dan lainnya.
B. Fungsi Lingkungan Pendidikan
Pertama lingkungan pendidikan
adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan
sekitarnya baik lingkungan fisik, sosial dan budaya, terutama dalam berbagai
sumber daya pendidikan yang tersedia agar dapat mencapai tujuan pendidikan
secara optiamal.
Kedua lingkungan pendidikan
adalah mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi serta mempersiapkan
peranan-peranan tertentu dalam masyarakat.
C. Ragam Bentuk
Lingkungan Pendidikan
a. Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari
sejumlah keluarga kecil karena hubungan sedarah. Bisa berbentuk keluarga inti (nucleus
family, ayah ibu dan anak), ataupun keluarga yang diperluas (di samping
inti, ada orang lain seperti kakek, nenek, ipar dan lain sebagainy.
(Tirtahardja, 2004).
Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranana
penting dalam membentuk generasi muda. Keluarga disebut pula sebagai lembaga
pendidikan informal. Pendidikan informal, adalah kegiatan pendidikan yang tidak
diorganisasikan secara struktural dan tidak
mengenal sama sekali penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum
maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan. (Azra, 1998).
Keluarga secara etimologi menurut Ki Hajar Dewantara,
seperti di jelaskan oleh Abu Ahmadi adalah sebagai berikut: Bagi bangsa kita
perkataan “keluarga” tadi kita kenal sebagai rangkaian perkataan-perkataan
“kawula” dan “warga”. Sebagai kita ketahui, maka “kawula” itu tidak lain
artinya dari pada “abdi” yakni “hamba” sedangkan “warga” berarti “anggota”.
Sebagai “abdi” dalam “keluarga” wajiblah seseorang disitu menyerahkan segala
kepentingan-kepentingan kepada keluarganya. (Ahmad, 1991).
Keluarga dalam pandangan antrpologi adalah kesatuan-kesatuan
kecil yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerjasama yang sangat
erat.
Secara sosiologis keluarga adalah bentuk masyarakat kecil
yang terdiri darki beberapa individu yang terikat suatu keturunan, yakni
kesatuan antara ayah, ibu dan anak yang merupakan kesatuan kecil dari bentuk-bentuk
kesatuan masyarakat. (Ahmadi, 1991).
Dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan
adalah sebagai berikut:
· Dorongan/motivasi
cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak.
· Dorongan/motivasi
kewajiban moral, sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya.
· Tanggung
jawab sosial sebagai bagian dari keluarga, yang pada gilirannya juga menjadi
bagian dari masyarakat, bangsa dan negaranya, bahkan kemanusiaan. (Tim Dosen
Ikip Malang, 1998).
Tujuan pendidikan dalam keluarga
· Memelihara
dan membesarkan anak
· Melindungi
dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah
· Memberi
pengajaran dalam arti yang luas, sehingga anak memperoleh peluang untuk
memiliki pengetahuan dan kecakapan.
· Membahagiakan
anak, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup
muslim. (Daradjat, 1992).
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan kepada anak dari orang
tua meliputi tujuh hal berikut:
· Dasar
pendidikan budi pekerti dengan cara memberikan norma pandangan hidup tertentu
walaupun masih dalam pola yang masih sederhana.
· Dasar
pendidikan sosial dengan cara melatih anak dengan tata cara bergaul dan
berkomunikasi yang baik terhadap lingkungan sosial sekitar.
· Dasar
pendidikan intelek dengan cara mengajar anak tentang kaidah-kaidah bertutur
bahasa yang baik.
· Dasar
pembentukan kebiasaan pembinaan kepribadian yang baik dan wajar dengan
membiasakan anak hidup teratur bersih, disiplin, dan rajin.
· Dasar
pendidikan nasinalisme dan patriotisme dan berprikemanusiaan untuk mencintai bangsa dan tanah air.
· Dasar
pendidikan agama, melatih dan membiasakan anak beribadah kepada Tuhan dengan
meningkatkan aspek keimanan dan ketakwaan.
Lingkungan keluarga berpengaruh kepada anak dari sisi:
a. Perlakuan
keluarga terhadap anak
b. Kedudukan
anak dalam keluarga
c. Keadaan
ekonomi keluarga
d. Keadaaan
pendidikan keluarga, dan
e. Pekerjaan
orang tua.
b. Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi,
metode, alat-alatnya disusun secara eksplisit, sistematis dan
distandarisasikan” (Azra, 1998).
Penjabaran fungsi sekolah sebagi pusat pendidikan formal,
terlihat pada tujuan institusional, yaitu tujuan kelembagaan pada masing-masing
jenis dan tingkatan sekolah. Lembaga pendidikan formal pra sekolah tebagi atas
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas yang terdiri
dari sekolah menengah umum kejuruan, serta perguruan tinggi dengan aneka ragam
bidangnya. Tujuan institusional untuk masing-masing tingkat atau jenis
pendidikan, pencapaiannya ditopang oleh tujuan-tujuan kurikuler dan
instruksional.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menerima fungsi
pendidikan berdasarkan asas-asas tanggung jawab berikut ini:
· Tanggung
jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan yang ditetapkan
menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku (undang-undang pendidikan).
· Tanggung
jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi, tujuan, dan tingkat pendidikan yang
dipercayakan kepadanya oleh masyarakat.
· Tanggung
jawab fungsional ialah tanggung jawab profesional pengelola dan pelaksana
pendidikan (para guru dan pendidik) yang meneriama ketetapan ini berdasarkan
ketentuan-ketentuan jabatannya.
Sekolah memiliki ciri jenjang dapat dijelaskan sebgai berikut:
· Jenjang
Lembaga
Sekolah dirancang
dengan berbagi tingkatan, dari taman kanak-kanak (TK). Sampai perguruan tinggi
(PT). Sebagian dikelola oleh Depertemen Pendidikan Nasional dan sebagian lainnya dikelola oleh Depertemen Agama.
· Jenjang
Kelas
Jenjang kelas ini sangat bervariasi
misalnya pada tingkat SD/MI terdiri dari enam kelas, SMP/MTS ada tiga kelas,
dan SMA/MAN termasuk sekolah yang sederajat tiga kelas. Sedangkan pada tingkat
PT tidak ditentukan oleh jenjang kelas, tetapi sejauhmana mahasiswa dan
mahasiswi dapat menyelesaikan pendidikannya sesuai denagan kecepatannya. Setiap
mahasiswa dan mahasiswi diberi matakuliah kesempatan untuk memilih matakuliah
dan dosen secaraa mandiri. Masing-masing mata kuliah diberi bobot
sendiri-sendiri yang disebut dengan satuan kredit (sks).
Evaluasi untuk mengukur kemampuan murid untuk menyelesaikan
pendidikannya pada suatu jenjang atau jenis pendidikan dilakukan melalui tiga
cara berikut:
1. Formatif,
dilakukan setiap selesai satu sesi pembelajaran.
2. Sumatif,
yang dilakukan setiap semester, atau setiap tahun.
3. UAN
(Ujian Akhir Nasional), adalah evaluasi yang diselenggarakan pada sekolah dan
juga yang diselenggarakan oleh pemerintah (sekolah negeri) atau sekolah swaata
yang berada dalam naungan pemerintah.
Meskipun demikian, tidak semua pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian murid itu berkembang semata karena kurikulum, tetapi boleh jadi
perkembangan itu melalui interaksi antara satu murid dengan lainnya, atau
dengan gurunya bahkan juga dengan lingkungannya.
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah kumpulan individu dan kelompok yang diikat
oleh kesatuan negara, kebudayaan dan agama.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam
masyarakat meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan,
pembentukan pengertian (pengetahuan) sikap dan minat, maupun pembentukan
kesusilaan dan keagamaan (Marimba, 1980).
Lembaga pendidikan kemasyarakatan islam dapat mengambil
bentuk organisasi kepanduan, perkumpulan pemuda, olahraga, kesenian, remaja
mesjid, majelis taklim, koperasi, pusat keterampilan dan latihan, partain
politik, perkumpulan agama dan lain-lain.
Sosial/masyarakat, adalah pendidikan yang merupakan tersier,
tapi sifatnya permanen dengan
pendidikannya masyarakat itu sendiri secara sosial, kebudayaan adat
istiadat dan kondisi masyarakat setempat sebagai lingkungan material.
Pendidikan dalam pergaulan masyarakat terutam banyak sekali
lembaga-lembaga pendidikan seperti:
a. Masjid
surau atau langgar, musholla
b. Madrasah,
podok pesantren
c. Pengajian
atau majelis taklim
d. Kursus-kursus,
dan
e. Bada-badan
pembinaan roahani (biro pernikahan, biro konsultasi keagamaan dan lain-lainnya)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Lingkungan
pendidikan dapat membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai
lingkungan sekitarnya.
2. Lingkungan
pendidikan mengajarkan tingkah laku umum untuk menyeleksi dan mempersiapkan
peranan-peranan tertentu dalam masyarakat. Dan
3. Dengan
lingkungan pendidikan juga adalah tempat seseorang memeperoleh pendidikan
secara lansung maupun tidak lansung.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi,
Abu dan Uhbiyati, Nur. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmadi,
Abu 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Hasbullah.
2003. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Purwanto,
Ngalim. 1994. Ilum Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung. Remaja
Rosda Karya.
Langgulung,
Hasan. 1995. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Husna Zikra.
Tirtahadja,
Umar. 2004. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta.
Azra,
Azyumardi, 1998. Esai-esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam.
Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
D
Marimba, Ahmad. 1980. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-
Ma’arif.
Daradjat,
Zakiyah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment